4 keteladanan kisah Nabi Muhammad SAW di Madinah

Pertama,
Nabi Muhammad SAW ketika pertama kali berhijrah ke kota yang dulu bernama Yastrib ini adalah dengan membangun sebuah masjid. Dalam sejarahnya,


selama perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW telah membangun dua masjid, yakni Masjid Quba' yang berjarak 5 kilometer dari Madinah dan Masjid Nabawi yang juga menjadi tempat tinggal Nabi selama berada di Madinah.

Ust. Malik menjelaskan esensi pembangunan masjid merupakan simbol komunikasi antara seorang hamba dan sang Pencipta. Sedangkan aspek sosialnya adalah sebagai simbol pemersatu umat Islam. Selain itu, makna yang bisa diambil dari pembangunan masjid tersebut merupakan sebuah pembelajaran, dimana ketika kita hendak membangun sebuah masyarakat Islami yang kuat maka perlu dibangun pondasi yang kuat pula. Nah, pondasi berupa militansi keagamaan tersebut dapat dilakukan melalui pendirian sebuah masjid sebagai pusat aktivitas spiritual.

Kedua,

Kisah Nabi Muhammad SAW setelah hijrah di madinah adalah mempersaudarakan antara kelompok pendatang (muhajirin) dengan kelompok pribumi (anshar). Proses hijrah adalah proses yang melelahkan secara fisik dan psikis. Sebagaimana diketahui, jarak Makkah dengan Madinah adalah sekitar 500 kilometer yang ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan alat transportasi seadanya yang tentunya tidak seperti saat ini.

Dalam kisah Islam masyhur, Nabi Muhammad SAW seperti yang telah dicatat dalam 'tarikh Islam' pernah mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa'ad bin Rabi', begitu pula antara sahabat Salman al Farizi dengan Abu Darda.

Proses mempersaudarakan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ini setidaknya memiliki beberapa faedah bagi para sahabat tersebut, misalnya untuk menghilangkan rasa keterasingan dan kesendirian dalam hati para Muhajirin dengan keberadaan mereka di negeri orang. Sementara mereka hadir di negeri itu dengan meninggalkan tanah kelahiran, harta, bahkan sanak famili.

Selain itu, mempersaudarakan antara sahabat yang satu dengan lainnya bertujuan untuk merealisasikan atau mewujudkan nilai-nilai "al-wala" (kesetiaan) dan "al-bara" (berlepas diri). Penting juga untuk diingat bahwa persaudaraan itu adalah bentuk setia dan cinta kepada orang-orang beriman dan menolak kepatuhan dalam kemaksiatan dan kemungkaran.

Ketiga,

Setelah Nabi Muhammad SAW membaca konstruksi sosial-budaya serta tatanan politik masyarakat Madinah, maka beliau mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi yang telah ada di Madinah jauh sebelum umat Islam hadir. Sebagaimana diketahui, kaum Yahudi mempercayai bahwa bangsa mereka adalah bangsa terpilih, mereka juga meyakini bahwa penerus Isa AS adalah dari keturunan bangsa Yahudi.

Maka ketika ada seorang arab bernama Muhammad hadir dan mendeklarasikan diri sebagai Nabi akhir zaman, kaum Yahudi merasa sakit hati dan marah. Disinilah kepandaian sebagai "politisi" Nabi Muhammad SAW dalam menyusun strategi, bukannya menggunakan kekerasan dalam melawan Yahudi, akan tetapi membuat perjanjian yang nantinya ternyata akan dikhianati oleh Yahudi sendiri.

Isi perjanjian tersebut antara lain, 1. Yahudi hidup damai berdampingan dengan Muslim; 2. Dipersilahkan masing2 utk menjalankan keyakinannya; 3. Hendaknya saling tolong-menolong melawan siapapun yang akan menyerang Madinah; 4. Madinah adalah kota suci yang harus dihormati semua pihak, jika terjadi perselisihan maka diselesaikan dan diserahkan pada Allah dan Rasul-Nya. Perjanjian ini disebut oleh berbagai pihak sebagai perjanjian kemanusiaan pertama yang pernah ada.

Keempat,

Nabi Muhammad SAW menjadikan Madinah menjadi kota yang berkeadaban, kota yang tertib serta taat. Setelah Islam berdiri kokoh di Madinah, maka Nabi Muhammad SAW mulai meletakkan pondasi penataan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Misalnya dalam bidang ekonomi, ustadz Malik menggambarkan bahwa Rasul membuat sistem kekayaan yang tidak boleh dimonopoli oleh hanya satu orang. Di Madinah tidak boleh ada monopoli perdagangan serta pertanian.

Rasulullah memberikan sebuah keteladanan sistem ekonomi yang adil dan merata. Perdagangan harus dilakukan secara jujur dan menjauhi sistem ribawi. Sumber kekayaan ekonomi tidak boleh hanya beredar pada segelintir orang. Hal ini jika ditarik pada kondisi ekonomi kekinian menunjukkan betapa sistem ekonomi kapitalistik yang hanya bertumpu pada "kaum pemodal" memiliki kelemahan dan sistem yang rapuh.(ZA)